02 Januari 2015

Dari Bekasi ke Penjuru Negeri

Kolaborasi berbagai sektor, kreativitas produsen makanan, internet yang melaju cepat, dan jasa pengiriman yang sigap membuat bisnis makanan penanda kota kian moncer. "Kini, jagoan kami adalah akar kelapa, yang setiap hari diproduksi 10 kg, kembang goyang 5 kg, biji ketapang 10 kg, telur gabus keju 5 kg, dodol Betawi serta bir pletok.
Ada juga paket oleh-oleh dengan kardus cantik. Total omzet kami, Rp15 hingga Rp30 juta per bulan, di luar Ramadhan" Deni Ardini Pengusaha Warung Mpok Nini

DARI Bekasi, Jawa Barat, kue akar kelapa, kembang goyang, dan dodol betawi itu menyebar ke penjuru Nusantara. Penganan kebanggaan warga Betawi itu bisa dinikmati hingga ke kota-kota di Pulau Sumatra, Jawa Timur, serta berbagai daerah di Indonesia lainnya.

Warung Mpok Nini yang dirintis satu dekade sebelumnya dengan menjajakan nasi uduk dan aneka kue Betawi itu, pada 2011, memasuki medan perdagangan lintas wilayah melalui medium internet, berkolaborasi dengan perusahaan jasa antar barang.
Kini, bahkan penjualan melalui http://www.oleholehjakarta.com, http://www.oleholehbekasi.com, http://www.mpoknini.co.id itu serta kemitraan dengan pesonanusantara.co.id, mencapai 80 persen dari total omzet, sedangkan sisanya datang dari transaksi di rumah produksi Warung Mpok Nini di Jalan Belanak 2 Ujung, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kota Bekasi.

“Ibu saya, Ibu Rohani, dipanggil Mpok Nini, sebelumnya berbisnis secara konvensional di depan halaman rumah setiap hari selepas subuh sampai sekitar pukul delapan pagi. Ia berjualan kue basah dan kering di meja sederhana bersama nasi uduk. Dari usaha ini, ibu membantu ekonomi keluarga, membiayai sekolah anak,“ kata Deni Ardini, 25, putra sulung Rohani yang kini menjadi mitra sang ibu bergerilya di internet.

Modal ilmu di jurusan teknologi informasi yang ditempuh Deni kemudian dikolaborasikan dengan kreativitas Mpok Nini. “Kini, jagoan kami adalah akar kelapa, yang setiap hari diproduksi 10 kg, kembang goyang 5 kg, biji ketapang 10 kg, telur gabus keju 5 kg, dodol Betawi serta bir pletok. Ada juga paket oleh-oleh dengan kardus cantik. Total omzet kami, Rp15 hingga Rp30 juta per bulan, di luar Ramadhan,“ kata Deni. Inovasi itu efektif mendongkrak roda bisnis. Kini jumlah karyawan yang memproduksi sebanyak tiga orang, mereka tetangga dan kerabat Mpok Nini di sekitar Kayuringin.

Geliat Mpok Nini di jalur internet yang diikuti kualitas produksi itu kemudian memacu peluang berikutnya. Situs penjualan pesonanusantara.co.id yang dioperasikan perusahaan jasa titipan dan logistik JNE.“Kami dihubungi pihak JNE, diberi formulir pendaftaran yang harus diisi. Mereka kemudian meminta sample, kami kirim dan kini Mpok Nini menjadi mitra Pesona Nusantara.Hasilnya, kami mendapat ke naikan omzet,“ kata Deni yang menargetkan, Warung Mpok Nini menjadi referensi utama penjual makanan khas betawi, termasuk untuk oleh-oleh.

Agar pergerakan itu kian optimal, Deni mengaku tengah membenahi kemasan, agar lebih cantik serta meningkatkan kualitas produksi.
“Branding kami, Mpok Nini sebagai pusat oleh-oleh khas Bekasi. Sejauh ini, upaya branding itu telah cukup berhasil. Namun, seiring berjalannya waktu, kini kami lebih menekankan Betawi karena peluang kami di daerah Jakarta, Depok, Tangerang yang juga tidak punya kekhasan oleh-oleh apalagi Jakarta. Terlebih, makanan daerah-daerah itu sama,“ kata Deni yang menegaskan, bisnis daring terbilang mudah dirintis tetapi berhadapan dengan tantangan mempertahankan kepercayaan dan citra.

Makanan penanda kota Pesona sendiri yang digadang-gadang berkontribusi memperkenalkan produk lokal daerah menjadi skala nasional sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro, menengah, dan koperasi di sektor industri makanan. Fokusnya, makanan-makanan khas yang menjadi penanda kota-kota di penjuru negeri.

Pengiriman contoh produk seperti yang dilakukan Warung Mpok Nini merupakan bagian dari proses seleksi kelayakan dan uji coba, sehingga produk itu aman dikonsumsi pelanggan. Bila makanan yang diinginkan tidak masuk dalam daftar, terdapat layanan Suka-Suka, pelanggan menentukan pilihan makanan, data lokasi, jenis, dan jumlahnya.

Tentu saja, penyesuaian harga akan terjadi, terkait tarif jasa pengirimannya. Pengusaha mikro dan menengah jadi produsennya, dunia daring yang jadi medium dan perusahaan jasa pengiriman yang mengantarkannya ke pelosok negeri. (M-2 Media Indonesia, 13/12/2014, halaman 19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar