27 Februari 2015

Minta Penjelasan Dinas Kebersihan Kota Bekasi

MELALUI rubrik ini saya mau bertanya kepada Dinas Ke bersihan Kota Bekasi, terkait pengangkutan sampah di perumahan saya, Perumahan Pondok Surya Mandala, Jaka Mulya, Bekasi Selatan.

Pertanyaan saya adalah apakah benar yang diangkut petugas kebersihan hanya sampah rumah tangga (sampah dapur), tidak termasuk daun-daunan dari pohon yang ditanam di rumah?
Kalau itu benar, berarti petugas kebersihan tersebut menentang program pemerintah `Menanam Sejuta Pohon'. Kalau pemerintah menganjurkan setiap orang atau rumah tangga menanam pohon (karena pohon adalah paru-paru dunia), mengapa pula daun-daunan yang sudah layu dan rontok tidak termasuk diangkut petugas kebersihan?

Dengan menanam pohon bukankah saya sudah menyumbangkan oksigen ke Kota Bekasi? Sudah dua bulan ini pengambilan sampah di lingkungan saya (RT 11/ RW 12) dilakukan oleh petugas yang datang dengan truk untuk mengambil langsung sampah di setiap rumah.Mereka datang dua kali dalam seminggu setiap Senin dan Kamis.

Namun, tiap kali mengambil sampah tidak pernah bersih dan tuntas. Sering tercecer. Cara mereka mengambil sampah tidak dilengkapi sapu, tetapi cuma sepotong kayu dan wadah plastik yang diseret-seret (sampah pun kerap tercecer sepanjang jalan).

Bukan itu saja, mereka bilang hanya mengambil sampah dapur yang sudah dibungkus-bungkus plastik, sementara daun-daun yang berguguran tidak diambil karena dianggap bukan sampah dapur sehingga menumpuk di bak sampah.

Saya kerap menegur supaya sampah daun (bukan dahan yang ditebang, hanya daun) juga diambil, tetapi tidak pernah diindahkan hingga kesabaran saya habis.

Saya berpikir setiap bulan membayar iuran sampah. Di kartu iuran itu tidak tertulis sama sekali khusus sampah dapur.

Seandainya memang benar harus ada tambahan biaya untuk mengangkut sampah daun-daunan saya siap membayar. Yang penting jangan ada sampah menumpuk untuk mencegah timbulnya penyakit.

Sejak Senin (16/2) sampah daun belum juga diambil, hingga Kamis (19/2) petugas sampah melewati rumah saya begitu saja karena kebetulan di bak sampah saya belum ada sampah dapur yang baru.

Saya dan suami pun mengejar petugas sampah yang sedang mengambil di blok sebelah yang masih satu RT. Ternyata, di blok itu si petugas bukan cuma mengangkut sampah, melainkan puing-puing bangunan pun diangkut.

Ketika saya bertanya mengapa sampah daun mangga (saya tidak mau diangkut si petugas bersama sopir truk sampah menjawab dengan entengnya, “Harus ada uang rokoknya, dong!“ Lalu saya bertanya lagi, “Apakah setiap kali mengangkut sampah harus pakai uang rokok?“ si sopir diam tidak menjawab.

Saya, suami, dan anak-anak pun terpaksa memasukkan sampah ke kantong plastik dan mengantar sendiri ke truk sampah yang parkir sekitar 100 meter dari rumah. Melihat kami sekeluarga yang mengangkut sampah, barulah mereka berdatangan membantu menyeroki sampah daun-daunan yang memang sudah menumpuk dan membusuk penuh belatung karena hampir tiga minggu tidak diambil-ambil.Rosmery Sihombing Pondok Surya Mandala Jaka Mulya, Bekasi SelataN, Media Indonesia, 21/02/2015, Halaman 7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar