31 Oktober 2014

Bekasi: Kendaraan tidak Pernah Diremajakan

Sejumlah pengemudi angkutan umum yang tergabung dalam Koperasi Angkutan Bekasi atau Koasi mengaku kendaraan yang mereka kemudikan tidak pernah diremajakan. Oleh karena itu, kondisinya sangat memprihatinkan. “Angkutan yang saya bawa ini sudah 20 tahun lebih belum pernah diremajakan,“ kata Wono, sopir Koasi K-15 jurusan Terminal (Kota Bekasi)-Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara.

Menurutnya, kondisi kendaraan yang dikemudikannya itu merupakan salah satu penyebab terus merosotnya minat warga untuk menumpang angkutan umum tersebut beberapa tahun terakhir. Karena itu pula, jumlah setoran yang harus diberikan kepada pemilik angkutan ikut menurun.

Hal tersebut, ujar Wono, membuat penghasilan pemilik angkutan di Kota Bekasi anjlok. “Itulah mengapa saat ini para pengusaha angkutan angkat tangan soal peremajaan armada,“ jelasnya.

Para pengemudi setiap hari harus menyetorkan hasil operasional kepada pemilik angkutan umum dengan jumlah bervariasi, bergantung pada trayek masing-masing. Menurut Wono, saat ini ia harus menyetor Rp90 ribu. Namun, terkadang ia tidak bisa memenuhi kewajiban tersebut lantaran sepi penumpang.

“Sejak tahun 2000, jumlah penumpang berkurang,“ ujarnya. Pengemudi Koasi lainnya, Ical, mengatakan untuk bisa memenuhi setoran ia terpaksa mengorbankan kenyamanan penumpang, yakni dengan terus menaikkan penumpang meskipun kapasitas telah terpenuhi. Penumpang pun duduk berdesakan. Terutama pada masa sibuk, saat jam masuk dan pulang kerja.

“Mau bagaimana lagi, jumlah penumpang menurun, sedangkan uang setoran tinggi,” kata pengemudi angkutan K-19 A jurusan Terminal (Kota Bekasi)-Pondok Timur Indah, Bekasi Timur. Dalam satu hari, katanya, ia maksimal bisa memperoleh penghasilan Rp300 ribu.

Jumlah itu dipotong untuk setoran Rp125 ribu dan uang bensin Rp100 ribu sehingga tersisa untuknya Rp75 ribu. Namun, dalam kondisi sepi penumpang, laki-laki itu hanya bisa menyetor Rp70 ribu.

“Kalau kondisi pendapatan seperti ini, mau diremajakan bagaimana? Setoran saja kadang kurang,” keluhnya. Menurutnya, salah satu alternatif yang bisa dilakukan, selain meremajakan angkutan umum Koasi, ialah merekondisikan kendaraan tersebut. Ia mengakui biaya untuk itu pun tidak sedikit.

Namun, ia mendukung jika Pemerintah Kota Bekasi memperhatikan kondisi angkutan umum. Ajakan kepada masyarakat untuk menggunakan transportasi publik, ujar Ical, harus didukung dengan alat transportasi yang nyaman sehingga masyarakat mau berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Berdasarkan pantauan, sebagian angkutan umum Koasi dalam kondisi rusak. Kerusakannya bervariasi, mulai kerusakan fisik sedang hingga rusak parah. (Gan/J-3) Media Indonesia, 31/10/2014, Halaman : 7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar